THE MONUMENTS MEN: FILM PENYELAMATAN SEJARAH
THE MONUMENTS MEN: FILM PENYELAMATAN SEJARAH

Bagaimana Mona Lisa, lukisan Leonardo Da Vinci, bisa tetap tersenyum di Museum Louvre sampai sekarang? Padahal, pertempuran sengit pernah berlangsung di Perancis, tempat penyimpanan mahakarya itu. Siapa yang berani maju ke medan perang, rela mempertaruhkan nyawa bukan untuk membela wilayah atau ideologi, tetapi mempertahankan warisan budaya?

Salah satu konflik terberat namun sering terlupakan dalam sejarah itu, diceritakan dalam film berdasarkan kisah nyata, "The Monuments Men".

Jelang akhir Perang Dunia II, The Monuments Men (regu monumen) dibentuk pemerintah Amerika Serikat . Misinya jauh dari bidang militer, pertahanan, maupun kemanusiaan pascatragedi, melainkan penyelamatan seni dan budaya.

Penugasan unik tetapi mulia itu dilatari ambisi pemimpin Nazi Adolf Hitler, yang juga pecinta seni. Meski sempat ditolak dari sekolah seni di Vienna - Austria, Hitler ingin membangun Fuhrermuseum, yang berisi karya-karya terbaik dunia.

Untuk mengisinya, orang-orang kepercayaan Der Fuhrer (panggilan untuk Hitler) telah mengumpulkan ribuan karya klasik antara lain Rembrandt, Van Gogh, Raphael, Botticelli, dan Picasso. Belum lagi ribuan buku, ratusan emas, dan lukisan potret pribadi milik orang Yahudi yang diculik tentara Nazi.

Tak hanya mengambil paksa, Nazi juga menghancurkan gereja, museum, dan monumen bersejarah bagi peradaban dunia, khususnya Eropa.

Karena itulah The Monuments Men dikirim ke medan perang untuk mengembalikan benda curian kepada pemilik atau tempat asalnya. Salah satu target yang awalnya diincar tim tersebut adalah patung The Burges Madonna karya Michelangelo dan lukisan di atap Katedral St Bavo, the Ghent Alterpiece.

The Monuments Men terdiri dari sejarawan seni, direktur museum, seniman, arsitek, dan kurator berpengalaman. Sebagian besar anggotanya sudah tidak muda lagi, bahkan memasuki masa pensiun. Mereka diperlakukan hampir sama dengan prajurit lain, mulai dari berlatih tempur, beraktivitas di kamp tentara, sampai berhadapan langsung dengan kontak senjata.

Tim yang dipimpin Frank Stokes (George Clooney) juga perlu mengungkap teka-teki lokasi Nazi menyembunyikan ribuan karya seni. Tempatnya terbentang dari Belgia, Jerman, Austria, Perancis, dan Italia.

Waktunya pun terbatas. Karena Nazi sudah terdesak dan hampir kalah, pengikutnya diperintah untuk menghancurkan semua properti Nazi termasuk rampasan, ketika Hitler wafat. Apalagi, kubu Rusia juga mengutus pasukan yang tugasnya seperti The Monuments Men.

Rintangan juga datang dari prajurit lapangan, yang sebelumnya menjaga teritori sekutu di Eropa. Belum lagi kecurigaan penduduk lokal, apakah The Monuments Men sungguh-sungguh ingin membantu sebagai sekutu atau malah ikut mencuri.

Beragam halangan harus dihadapi The Monuments Men, sambil terus memaknai prinsip bahwa nyawa seseorang selalu lebih penting daripada karya seni. Hasilnya, berbeda dengan film perang yang biasanya bercerita tentang momen-momen bersejarah, "The Monuments Men" menampilkan perjuangan menyelamatkan sejarah.

Seperti karya-karya sebelumnya yang sarat pesan politik ("Good Night, and Good Luck" dan "The Ides of March"), George Clooney juga menyampaikan sindiran lewat "The Monuments Men". Sebagai sutradara, Clooney ingin membuat film yang tidak sinis, tetapi langsung menjelaskan inti permasalahan, bergaya kuno, dan mempunyai gerakan positif terhadapnya.

Pembelaan untuk karya seni juga sangat relevan. Menurut Clooney, kebudayaan selalu beresiko khususnya di berbagai daerah konflik seperti Irak, di mana banyak museum yang hancur karena tak terlindungi saat perang.




Sutradara: George Clooney
Pemain: George Clooney, Matt Damon, Bill Murray, John Goodman, Jean Dujardin, Cate Blanchett.
Distributor: 20th Century Fox
Durasi: hampir dua jam
Genre: drama, komedi, sejarah, perang





(Marlene)