The LEGO Movie: Reuni dengan Mainan Masa Kecil
The LEGO Movie: Reuni dengan Mainan Masa Kecil

Pengisi Suara: Chris Pratt, Will Ferrell, Will Arnett, Liam Neeson, Morgan Freeman.

Sutradara: Phil Lord & Chris Miller ("Cloudy with a Chance of Meatballs")

Genre: Animasi, komedi

Durasi: 1 jam 40 menit

Estimasi biaya produksi: 60 juta dolar / Rp 731 miliar

Rumah produksi: Warner Bros. Pictures

Tayang mulai 7 Februari 2014 di bioskop

 

Anda masih ingat serunya bermain Lego? Atau pernah melihat penggemar Lego berkreasi dengan bongkah plastik kecil warna-warninya?

The LEGO Movie membangkitkan memori indah itu ke layar lebar untuk pertama kalinya.

Kalau animasi lain dibuat dari sketsa biasa, The LEGO Movie digambar dari bentuk-bentuk Lego. Animasi komputer 3D ini membutuhkan hampir 4 juta bata Lego.

Beberapa di antaranya digunakan dan direkonfigurasi dalam berbagai adegan, setting, karakter, dan properti.

Secara total, 15 jutaan Lego diperlukan jika kita ingin membuat dengan tangan seluruh bagian film.

Untuk menampilkan bayangan, tekstur, struktur, dan permukaan yang meyakinkan, tim produksi juga membuat berbagai referensi fotografi dalam tata lampu di konstruksi Lego berbeda.

Hasilnya, penonton lintas generasi bisa menikmati asap, air laut, awan, batu, api, bahkan ledakan dalam model elemen-elemen Lego.

Bentuk bertema luar angkasa, yang pernah populer di akhir tahun 70-an sampai akhir 80-an, mendominasi film karena penggemar dewasa Lego memiliki kenangan terhadap era itu.

Mulai dari gaya rambut, robot, kendaraan, sampai tokoh DC Comics Batman, Wonder Woman, dan Superman, tampil seperti dalam versi kartun televisi tahun 80-an.

Semua komponen berkesan 'jadul' tadi, mendukung inti cerita sederhana yang penuh pesan inspiratif.

Karakter utama Emmet, figur mini Lego biasa, tak sengaja dianggap sebagai Sosok Spesial yang bisa menyelamatkan dunia Lego.

Dia bergabung dengan para master builder (ahli penyusun Lego), yang terdiri dari superheroes dan tokoh-tokoh terkemuka.

Mereka harus bekerja sama menghentikan niat President Business, yang ingin mengatur dunia Lego agar tetap tersusun rapi.

Menurut salah satu sutradara Chris Miller, The LEGO Movie sebenarnya bercerita tentang dua tipe penggemar Lego. Ada yang taat dengan instruksi di kotak Lego. Mereka biasanya membangun Lego untuk ditempatkan khusus dalam rak agar tidak rusak.

Ada juga pemain Lego lainnya mengambil tumpukan komponen secara acak, menyusun sesuatu sesuai imajinasi, untuk kemudian dilepas satu per satu, dihancurkan, dan dibuat model lainnya.

The LEGO Movie menggambarkan dua pendekatan berbeda itu sebagai basis cerita. Semuanya berhubungan dengan inovasi, kreativitas, dan pentingnya perubahan.

Dengan tampilan dan cerita bernuansa serba Lego, jangan heran kalau anak atau teman nonton cilik anda langsung minta memainkan alat konstruksi asal Denmark itu.

Atau, malah anda sendiri bergegas mencari koleksi di gudang dan toko mainan untuk sekadar bernostalgia. Siap-siap diajak reuni dengan Lego melalui The LEGO Movie.