Logan
Logan

Belum sampai sepuluh menit durasi berjalan, Logan/Wolverine (Hugh Jackman) sudah membantai preman pencuri mobil dengan cakar Adamantiumnya. Bukan lewat sekuens tanpa darah yang aman ditonton anak-anak, namun melalui adegan yang sebelumnya tak pernah kita lihat dalam film X-Men (kecuali Deadpool, tentu saja). Logan langsung menusukkannya ke tengkorak. Film ini berisi adegan potong-memotong anggota tubuh, darah bermuncratan dimana-mana, anak kecil yang membawa kepala terpenggal... dan Profesor Xavier (Patrick Stewart) yang bicara jorok. 

Logan adalah satu lagi film superhero yang mencoba menyentuh realisme dunia nyata. Pemilihan judulnya, saya yakin, adalah untuk memberi penekanan agar kita melihat sang karakter tituler sebagai seorang manusia bernama Logan, alih-alih pahlawan berjuluk Wolverine. Logan sekarang adalah jagoan pensiun. Jalannya pincang, hobinya mabuk, jenggotnya tak terurus, dan ia harus membaca dengan bantuan kacamata. Pekerjaannya adalah semacam sopir GoCar. Ia mau saja mengantarkan cewek-cewek pesta demi bisa membeli obat bagi Profesor Xavier. 

Film ini adalah film solo ketiga Wolverine dan (katanya) film terakhir Jackman sebagai karakter tituler. Logan merupakan film standalone yang terpisah dari timeline franchiseX-Men, yang berarti berita bagus bagi kita karena menontonnya takkan seperti menyaksikan iklan untuk setengah lusin film selanjutnya. Film ini juga merupakan film superhero paling kontemplatif sejak Watchmen. Ia menampilkan banyak darah dan stuntspektakuler dimana mutan anak kecil berjumpalitan di atas mobil sambil membantai puluhan pria dewasa, namun durasi juga dihabiskan dengan karakternya yang suka memandang jauh memikirkan sesuatu. 

Film-film X-Men tak begitu menjelaskan bagaimana kebanyakan mutannya mendapat kekuatan, dan dalam Logan tak ada pula penjelasan yang rinci kenapa mereka kehilangan kekuatan. Sekarang adalah tahun 2029, dimana katanya tak ada lagi mutan baru yang terlahir. Mutan hanyalah prasasti dalam buku komik, dengan cerita yang tak masuk akal, Logan sempat bilang. Profesor Xavier menderita penyakit yang menyerang otak, yang membuatnya dianggap sebagai senjata pemusnah massal. Dengan bantuan mutan bernama Caliban, Logan merawatnya di sebuah gurun terpencil di Meksiko. 

Namun seorang wanita bernama Gabriela berhasil menemukan Logan untuk dimintai bantuan mengantarkan gadis kecil bernama Laura (Dafne Keen) ke Dakota Utara. Laura ini ternyata mutan juga. Ia punya cakar mirip Logan, kelincahan mirip Logan, kemampuan penyembuh mirip Logan, dan temperamen mirip Logan. Jiwanya masih anak-anak, tapi jauh lebih sangar daripada Logan. Laura adalah anak yang dikembangkan secara genetis untuk menjadi mutan pembunuh. Ada anak-anak lain seperti Laura, yang katanya juga menuju Dakota Utara yang dirumorkan menjadi tempat perlindungan mutan. 

Yeah smells like bulls**t, pikir Logan. Ia tak mau ambil pusing, tapi Profesor Xavier bersikeras. Dan film ini berubah menjadi road movie yang sudah bisa dipastikan akan menjadi sarana bonding bagi Logan dan Laura. Ini juga akan memperlihatkan kita sentuhan manusiawi saat ketiganya menumpang tidur di sebuah rumah warga biasa, dimana Logan dan Xavier bernostalgia. Namun mereka tak bisa bersantai, karena mereka diburu oleh tukang pukul dari lembaga riset mutan yang dikomandoi oleh Pierce (Boyd Holbrook). 

Ada yang bilang superhero hidup berdasarkan villainnya. Villain dalam Logan bisa dibilangworthless. Pierce jauh dari karakteristik supervillain, begitu juga mutan X-24 yang wujudnya takkan saya ungkap disini. Namun film ini tak begitu membutuhkan villain tangguh, karena musuh Logan sesungguhnya adalah usia. Telah hidup selama hampir 200 tahun, ia dilahap usia tua. Luka-lukanya tak sembuh secepat dulu. Sekarang ia lemah, bisa merasakan sakit dan ini membuat ia lebih rapuh dan kita lebih peduli. 

Selalu terlintas di pikiran saya bahwa mutan sebenarnya —jika benar ada di dunia nyata— akan seperti ini, Kemampuan mereka bisa membunuh orang, bukan sekedar dipakai untuk bertengkar satu sama lain, memporak-porandakan kota, lalu bertemu lagi film berikut dalam kondisi sehat walafiat. Logan bukan tentang pertarungan dengan efek spesial, melainkan elegi soal menjadi superhero. Tentu saja, tak ada film yang realistis jika menampilkan kekuatan super, namun stakes dalam Logan terasa riil. Tak ada alat supercanggih, tak ada ledakan fantastis. Kekuatan super bukan untuk menunjukkan pertarungan spektakuler, melainkan menggerakkan plot dan karakter. 

Sutradara James Mangold bilang bahwa Logan meminjam genre film Western. Gambar disorot menggunakan palet warna kering. Kebanyakan latarnya adalah di gurun. Atmosfernya depresif, tampaknya tak ada harapan dimana-mana. Untuk sekuens aksi, Mangold mengurangi editing cepat dan lebih memfokuskan pada koroegrafi. Adegan pertarungannya jelas. Ada adegan kejar-kejaran mobil yang intens di tengah film, yang disajikan dengan realistis. Filmnya kepanjangan, namun tak menjemukan bagi saya. 

Hugh Jackman telah berperan sebagai Logan/Wolverine selama 17 tahun. Karakteristik emosinya biasanya sangat basic; ia tak begitu pintar, tak pernah mengucapkan sesuatu yang mendalam, dan selalu mengutamakan temperamen. Dalam Logan, Jackman memberikan dimensi bagi karakternya. Disini ia berpikir dan bersikap layaknya manusia yang punya kepribadian. Ada alasan kenapa ia menolak keluarga atau intimasi dengan orang lain. Kesamaan dengan Laura membuat mereka dekat. Laura is the kind of child he never haveLogan tidak sedalam atau sekompleks yang coba ditawarkan oleh pembuat filmnya, namun cukup untuk memberikan diferensiasi bagi genre superhero. 

Di klimaks, Logan, Laura dkk meluapkan kemurkaan mereka habis-habisan, tapi saya rasa tak ada yang puas disini, baik mereka maupun kita sebagai penonton. Kejadian di akhir film menjadi semacam antiklimaks. Meski berdurasi cukup panjang, even di perjalanan mereka tak cukup matang untuk memberikan konklusi yang solid. Meski demikian. saya menikmati setiap momen dari Logan, walau ada berbagai pilihan naratif yang cukup mengganjal (keberadaan ramuan vitalitas, misalnya). And there we have it, a sentimental closing. `32;Ulasanpilem/UP