Kong: Skull Island
Kong: Skull Island

Kong: Skull Island adalah pengalih perhatian yang handal. Berulang kali, tepat saat saya akan mempertanyakan beberapa pertanyaan mengenai logikanya, ia melakukan apa yang memang sudah seharusnya dilakukan oleh hiburan siap saji: memindahkan fokus pada spectacle. Ada adegan dimana Tom Hiddleston dan Brie Larson naik ke bukit yang saya pikir memakan jarak cukup lama karena mereka menghabiskan waktu dari siang hingga malam hari. Namun dimana sense of geography (atau sense of time) saat keduanya turun dengan segera? Tak penting, karena setelahnya kita bakal menyaksikan gorilla raksasa dan napalm. A lot of napalm. Bagaimana pula dengan adegan aksi perdana yang sepertinya mengambil setting di siang-sore-siang-sore secara bergantian secara tak konsisten? Tak penting, karena gambarnya cantik dilihat. 

Dalam hal penampakan, Kong: Skull Island tak mau menahan diri. Kita takkan berkenalan dengan pelan-pelan. Tak ada antisipasi, namun saat ia datang, oh, kedatangannya menggelegar. Hanya beberapa menit setelah tim kita mendarat di Skull Island, Kong langsung menampakkan diri dengan spektakuler; ia membabat selusin helikopter layaknya menepuk lalat. Dan jangan khawatir, Sang Raja bukan satu-satunya atraksi, karena ada pterodactyl mini pemakan manusia, laba-laba raksasa, dan gurita sebesar kapal tanker! 

Kong: Skull Island adalah ridiculous monsters movie yang menurut saya bisa disandingkan di atas sana dengan Tremors, Anaconda, dll. Oke, sutradara Jordan Vogt-Roberts mungkin meniatkan film ini lebih serius dengan subteks perang atau semacamnya. Ia bahkan mengadaptasi beberapa elemen dari film perang klasik sepertiApocalypse Now dan Platoon. Tapi ayolah, ini film tentang Kong dan monster lho. Apa yang anda harapkan? Cerita tentang King Kong yang jatuh hati dengan gadis cantik berambut pirang lebih masuk akal. 

Setting-nya adalah tahun 1973, saat Amerika mulai menghentikan keterlibatan mereka dalam perang Vietnam. Bagian ini punya atmosfer layaknya film perang sungguhan, sampai Bill Randa (John Goodman), seorang ilmuwan penggila konspirasi yang tergabung dalam organisasi rahasia pemerintah, mulai membuat pernyataan tak masuk akal sembari ngelawak. Ia mengajukan proposal penjelajahan pulau tersembunyi bernama Skull Island. 

Demi ekspedisi ini, Randa merekrut Kapten Conrad (Tom Hiddleston), pelacak legendaris mantan tentara Inggris yang mungkin selalu membawa sisir kemanapun mengingat rambutnya yang selalu oke; penggila perang, Letkol Packard (Samuel L. Jackson) beserta skuadronnya; dan fotografer perang, Weaver (Brie Larson) yang ... bertugas memotret, tentu saja. Saya ingin komplain, tapi karena ini Brie Larson yang kita bicarakan, jadi akan saya simpan saja. 

Saya pikir tak ada yang menonton film seperti ini untuk mencari plot atau karakterisasi. Film ini adalah parade monster dan sekuens aksi penuh CGI yang disusun di atas plot seadanya mengenai para penjelajah kita yang bertualang di hutan dan tewas satu-satu karena keganasan monster. Semakin banyak karakter tak jelas, semakin banyak nyawa akan melayang. Tim kita yang terdiri dari: (1) tim aktor tenar, (2) tim tentara receh, dan (3) tim ilmuwan receh, langsung kocar-kacir saat pertama kali berhadapan dengan Kong. Tim aktor tenar dan sisa tim receh kemudian terpecah menjadi dua: (1) tim sipil yang dipimpin Conrad, serta (2) tim militer yang dipimpin Packard. Yang satu ingin pulang, yang satu ingin balas dendam. 

Dalam perjalanannya, Tim Conrad kemudian berjumpa dengan Hank Marlow (John C. Reilly), mantan tentara Perang Dunia II yang sudah terdampar di Skull Island selama lebih dari 3 dekade. Tak hanya sebagai comic relief, namun ia juga berfungsi sebagai narator untuk memberitahu karakter kita bahwa Kong sebenarnya adalah pelindung pulau dan punya musuh bebuyutan yang lebih brutal. Reilly bersenang-senang dalam perannya yang ala-ala Kurtz. Ia berjalan seimbang di antara orang yang edan total dan tentara paling waras di seantero Skull Island. Saya ingin berkomentar mengenai peran Hiddleston, Larson, dan Jing Tian yang bermain sebagai ilmuwan, namun saya harus bilang bahwa Kong lebih berkarakter daripada mereka. 

Dan kita boleh berterimakasih kepada Vogt-Roberts dan para pakar efek spesial dariIndustrial Light and Magic. Kong dan teman-teman monsternya adalah kreasi visual yang luar biasa. Memang terlihat komikal, namun mereka punya sense of mass. Kita percaya akan pertarungan monster kolosal ini karena efek yang ditimbulkannya bagi sekitar juga believable, entah saat hanya melibatkan tangan dan gigi hingga memakai senjata seperti rantai dan turbin kapal. Adegan pertarungan di puncak adalah pergulatan monster paling epik yang pernah saya tonton. Mengejutkan bagaimana Vogt-Roberts yang berangkat dari film indie The Kings of Summer bisa menyusun sekuens aksi semasif ini. Ia menyutradarai dengan mekanisme seperti seorang anak yang bermain monster-monsteran dengan bujet ratusan juta dolar. 

Yang sedikit mengganjal bagi saya adalah filmnya yang sepertinya mencoba menyampaikan sesuatu tanpa pernah berhasil melakukannya. Pesan moral mengenai politik dan perang mungkin? Entahlah, saya tak bisa fokus saat seekor monster menelan seorang manusia. Yang jelas, Kong: Skull Island adalah film monster yang punya gaya. Vogt-Roberts memasukkan adegan slow-motion arak-arakan helikopter, menggunakan palet warna memanjakan mata, dan menyelipkan trek lagu rock 70-an dari Credence Clearwater Revival atau Black Sabbath, karena ini terlihat keren. 

Jadi katanya Kong: Skull Island adalah instalasi kedua dari MonsterVerse milik Warner Bros yang dimulai dari Godzilla pada 2014 lalu dan akan mencapai puncak dalam Kong melawan Godzilla 3 tahun mendatang. Kedua film ini memang punya pendekatan yang berbeda, dimana Godzilla lebih subversif dengan menyembunyikan monsternya selama lebih dari setengah durasi sementara Kong: Skull Island lebih meledak-ledak, namun mereka menghibur dengan caranya sendiri. Saya sudah menyiapkan semangat kekanakan saya untuk Kong vs Godzilla karena Kong: Skull Island sudah membuktikan bahwa Kong versus apapun bisa menjadi film yang sangat entertaining. `32;Ulasanpilem/UP